Menjadi dikenang
Kita itu limited untuk waktu yang begitu Panjang.
Kita tidak bisa membersamai waktu ini sampai ia berakhir.
Tapi, ada satu hal yang bisa kita lakukan sehingga kita masih bisa mengarungi waktu sampai pada detik terakhir. Yaitu dengan cara mengabdikan diri untuk waktu itu sendiri.
Jadilah orang yang dikenang sepanjang waktu.
-
Bagaimana caranya biar kita bisa dikenang sepanjang waktu ?
Banyak !!
Iya, banyak jalan untuk menjadikan diri kita dikenang oleh orang lain dalam lintas waktu kedepan bahkan Ketika kita sudah tidak ada di dunia ini.
Salah satu dari sekian banyak cara untuk dikenang orang adalah meninggalkan warisan !!
Bukan hanya tanah, atau emas, atau bahkan intan berlian yang bisa diwariskan, keilmuan juga bisa. Bahkan mungkin mewariskan keilmuan jauh lebih bisa dikenang daripada mewariskan harta benda.
Bukankah keilmuan seseorang tidak bisa menurun pada anaknya secara genetik ? iya, betul. Tidak ada yang menjamin seseorang memiliki keilmuan yang mumpuni bisa didapatkan dari keturunan. Jadi, bagaimana cara mewarisi keilmuan ?
-
Salah satu caranya adalah dengan mengeluarkan ilmu itu sendiri dari pikiran lalu membubuhkan pada sehelai kertas. Zaman sekarang serba elektronik, bisa juga di tuangkan pada lembar kertas elektronik berbentuk e mail, blogg, atau bahkan beranda sosial media. Seperti yang kalian baca ini misalnya, tanpa disadari penulis telah mewariskan secercah keilmuan kepada pembaca melalui tulisan di blogg ini. Biarpun penulis sudah tidak ada di dunia ini, pembaca masih tetap bisa membaca tulisan ini, dan seolah-olah penulis berbicara dengan pembaca. Karena sejatinya menulis adalah berbicara. Berbicara menggunakan huruf. Lalu bagaimana dengan seorang pendakwah yang menyampaikan pemahamannya ? itu bisa juga, tapi ada kemungkinan hilang dari pendengar jika tidak menulis. Karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk yang pelupa.
-
Ini adalah salah satu cara untuk mengabdikan nama tanpa di telan waktu. Selain menulis, ada juga yang bisa membuat seseorang terkenang sepanjang waku. Misal, para pahlawan Negara. Mereka telah mengabdikan namanya melalui pengorbanan untuk bangsanya, dengan darahnya ia menulis sejarahnya sendiri. Oleh karenanya mereka seolah-olah masih hidup hingga sekarang lantaran warisan jasanya yang agung.
-
Pada akhirnya, kita tidak bisa menjadi seorang pahlawan Negara dengan mengerahkan tenaga dan darah untuk melawan penjajahan karena kemerdekaan sudah ada di tangan kita, maka membuat karya yang bisa dimanfaatkan orang banyak adalah jalan menuju keabadian nama. Dengan karya juga kita bisa hidup dan dikenang sepanjang waktu. Demikianlah cara membuat warisan yang tidak pernah habisnya, dan mungkin saja akan terus bertambah jika warisan keilmuan itu dikembangkan.
Terakhir, mari kita ingat pesan dari salah-satu sastrawan Indonesia “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” _Pramoedya Ananta Toer_


Komentar