Lembaga Hidup


Resensi Buku Karya Hamka (Lembaga Hidu)

Hari ini saya kembali membaca buku buya Hamka dengan judul “Lembaga Hidup. Adapun buku ini adalah buku ke empat yang saya baca dari buku Hamka yang saya koleksi sendiri. Seperti buku-buku sebelumnya, tulisan dengan bahasa khas melayu memberikan warna dan corak yang berbeda dari tulisan-tulisan lainnya. Mungkin ada beberapa dari kalian bertanya, mengapa gemar sekali membaca karya-karya Hamka ?. simple, jawabannya adalah karena bahasa yang digunakan oleh Hamka sangat mudah di mengerti, terlebih tulisan-tulisan Hamka selalu mengarah dan menggambarkan kenyataan hidup. Tanpa gimik. Langsung pada contoh yang nyata. Selain itu, kosakata yang digunakan juga adalah bahasa Indonesia yang hampir tidak terdengar lagi dalam percakapan sehari-hari. Ini yang membuat kosakata dalam bahasa Indonesia tidak luntur ditelan masa dan tenggelam lantaran zaman. Selanjutnya, ketajaman mengupas Ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu Masyarakat membuat buku-bukunya sangat cocok dijadikan sebagai karya yang musti diberikan penghargaan.

-

Buku ini ditulis dengan sub-sub yang sangat kompleks. Satu tema namun bisa memuat banyak pembahasan. Seperti yang saya paparkan diatas, ia (Hamka) dikenal dengan tulisan-tulisan yang bersangkutan dengan kehidupan bermasyarakat, hubungan manusia dengan manusia yang lazimnya di sebut muamalah. Ia banyak menerangkan penyakit-penyakit yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat beserta obatnya. Hal demikian kemungkinan lantaran ia banyak membaca buku-buku filsafat Yunani Kuno yang berbicara perbaikan perilaku masyarakat. Terlihat dari kutipan yang ia bubuhkan pada buku ini, filosof Yunani Kuno seperti Aristoteles, Plato dan bahkan filososf abad 20 seperti Muhammad Abduh sangat banyak di kutip perkataannya. Hal ini menunjukan bahwa ia sangat suka membaca buku-buku filosof.

-

Buku ini juga menggambarkan dan memberikan penerangan pada pembaca tentang pentingya memperbaiki umat dan membesarkan diri sehingga diri tidak berdiri diatas kaki orang lain, pada sub-sub judul yang lain juga ditorehkan banyak nasihat-nasihat terkemuka tentang kemandirian individu. Oleh karenanya, buku ini sangat cocok pula dibaca oleh mereka yang baru beranjak usia remaja atau mereka yang mulai mengenal dunia luar dengan bertambahnya relasi.

-

Pada buku ini pula, terdapat banyak teori yang berkaitan dengan kepemimpinan. Bisa dilihat dari beberapa sub bab yang Hamka cantumkan, seperti wasiat Ali bin Abi Thalib kepada amirnya, wasiat Aristoteles  kepada Iskandar, wasiat Syihabuddin Ahmad bin Ahmad Muhammad  bin Abir Rabi, dan surat politik Sayidina Ali. Keseluruhannnya disatukan dalam sub-sub yang berkaitan dengan kepemimpinan. Maka dengan ini, saya berpendapat bahwa buku ini boleh juga dijadikan sebagai rujukan para aktivis, kader organisasi, loyalitas pecinta tanah air, dan segenap insan yang hendak menjadi pemimpin dalam menanggulangi permasalahan kepemimpinan. Dijelaskan pula, sebab-sebab kemajuan dan kemunduran seorang pemimpin. Atas dasar tersebut pula saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca dengan saksama oleh calon-calon pemimpin masa depan. Atas dasar itu pula karya Hamka ini (lembaga hidup) sangat cocok dijadikan panduan dalam melaksanakan latihan dasar kepemimpinan. Pada akhirnya, hari ini saya belum tuntas juga membacanya lantaran saya lebih banyak menulis catatan-catatan kecil yang ada pada buku ini. Hari ini, setelah 15 hari saya membaca buku ini, baru sampai pada halaman 309 dari 392 halaman. Mudah-mudahan saya bisa memberikan catatan kecil pada buku ini dan akan saya resensi pula sisa halaman yang belum saya baca ini.


 

Komentar

Postingan Populer