ESSAI
Santri dan
Kesalehan Sosial di Masa Pandemi COVID-19
Berangkat dari sejarah yang diperkasai oleh santri, Negara
Indonesia memiliki corak khas ala santri. Sebagai Negara Islam, Indonesia tidak
luput dari peran santri ataupun dari Pesantren tempat para santri mengkaji.
Dari bidang pemerintahan sampai pada tingkat tokoh di dalam sosial masyarakat,
santri mendapatkan peran yang penting untuk menjadi panutan dan imam di
masyarakat. Terlepas dari itu, sejarah telah banyak mencatat kemerdekaan
Indonesia tidak akan berhasil andaikata santri dan pesantren tidak ada. Jauh
sebelum perjuangan kemerdekaan Indonesia, agama Islam menjadi simbol dari
peradaban pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti kerajaan Pasai,
kerajaan Demak, dan kerajaan-kerajaan yang lain yang berdiri di wilayah
Nusantara
Tidak dipungkiri lagi, sumbangan santri atas kemerdekaan negara
Indonesia ini sangat besar. Disamping itu peran santri dalam bersosial juga
tidak diragukan lagi, salah satunya sebagai agent of controll. Pandangan
masyarakat Indonesia tentang santri tentu berbeda dengan siswa yang tidak
nyantri, meskipun pada kenyataannya siswa yang tidak mengikuti program asrama
ataupun mondok dan mempunyai jadwal untuk mengkaji agama tidak melulu
tertinggal pengetahuannya mengenai agama. Berangkat dari pandangan tersebut
pada akhirnya masyarakat memberikan pandangan yang sama atas santri dengan
status turun menurun.
Kehidupan santri yang multi-agamis memberikan warna pada status
sosial masyarakat. Kegiatan sosial dalam bidang keagamaan dimasyarakat tentu
akan berjalan dan teratur jika dalam masyarakat tersebut memiliki orang yang
faham agama, dalam hal ini santri bisa dikatakan “yang faham agama”. Di satu sisi
kehidupan sosial masyarakat dengan ciri khasnya adalah gotong royong menjadikan
peran santri sangat dibutuhkan, meleihat figur-figur santri sudah di didik
dengan cara belajar dan besosial. Dengan ciri khas tersebut masyarakat
Indonesia erat sekali dengan hukum-hukum muamalah (bersosial)
Pada masa pandemi sekarang ini, pengetahuan dan kesadaran
masyarakat adalah hal yang utama dalam pengurangan atau bahkan menghentikan
laju penularan corona virus desase-19 (covid-19). Melihat data yang
dikeluarkan dari www.bisnisnews.id Mengatakan
bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat kesadaran akan penyakit menular
sangat rendah. Ditambah lagi dengan pengetahuan tentang virus yang menjangkit
di seluruh dunia sekarang ini. Minimnya pengetahuan dan kesadaran dari
masyarakat menjadi kendala untuk memerangi penyakit menular (covid-19).
Pasalnya, daerah dengan masyarakat yang memiliki kesadaran dan pengetahuan yang
baik mengenai virus (covid19) memiliki tingkat kesembuhan dan bisa menekan laju
penularan covid19. Sedangkan daerah dengan masyarakat yang kurang kesadaran dan
pengetahuan tentang penyakit menular akan sulit memutus rantai penyebaran virus
yang merebak sekarang ini.
Pada masa seperti inilah santri dan pesantren memiliki peran yang
sangat penting, melihat dari pandangan masyarakat Indonesia yang menjadikan
santri sebagai panutan atau bahkan sebagai imam. Lebih dari itu, kapasitas dan
kapabilitas ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum yang dimiliki para
santri akan sangat berperan dalam mengedukasi masyarakat untuk mencegah
penularan covid-19. Tidak hanya itu juga, didalam kehidupan sosial masyarakat
pada masa pandemi ini tentu telah mengubah banyak tatanan masyarakat dalam bersosial.
Sebagai contoh, sebelum pandemi covid-19 masyarakat selalu mengadakan pengajian
bulanan atau bahkan mingguan, dan setelah mewabahnya covid-19 pengajian
ditiadakan. Hal ini tentu mengubah tatanan kebiasaan masyarakat. Pada
kesempatan inilah kemudian santri sangat dibutuhkan, melihat dari keilmuan
agama dan teknologi yang dimiliki para santri. Sebagai salah satu solutor,
peran santri kiranya akan mampu menyuguhkan solusi di tengah sosial masyarakat.
Sosial dari segi bahasa dapat diartikan sebagai bentuk segala hal
yang berkenaan dengan masyarakat. Dalam bersosial dimasa pandemi tentunya serba
terbatas, tentu gerak-gerik masyarakat jauh lebih terikat dari sebelum adanya
pandemi ini. Pada situasi dan kondisi inilah kemudian kesalehan bersosial harus
di tingkatkan. Merawat hubungan sosial di masa pandemi sangat dibutuhkan,
melihat dari peraturan-peraturan pemerintah yang membatasi aktivitas sosial
sebagai bentuk upaya pemerintah dalam memerangi covid-19. Adanya pembatasan
tersebut mengakibatkan perselisihan, diantaranya tentang larangan shalat jum’at
ketika ada wabah berbahaya. Sebagian masyarakat akan mengikuti dan sebagian
masyarakat kontra terhadap peraturan yang dibuat pemerintah. Melihat
perselisihan tersebut, santri dan kesalehan dalam bersosial akan mampu melerai
pertikian tanpa mendukung salah satu pihak, karena memang santri mendapatkan
kedudukan yang berbeda oleh masyarkat. Oleh sebab itulah santri dapat
menggunakan kedudukan tersebut untuk memecah permasalahan kontemporer di masa
pandemi ini.
Sebelumnya, perlu untk kita bedakan antara kesalehan sosial dengan
kesalehan pribadi. Menurut hemat penulis, kesalehan pribadi adalah selalu
berkaitan dengan habluminallah atau
bisa diartikan dengan hubungan makhluk secara pribadi dengan Allah Swt.
sedangkan, kesalehan sosial adalah kerukunan dalam bermasyarakat. Kesalehehan
sosial yang dibangun atas dasar ilmu dan akhlak adalah hal yang harus ada pada tiap-tiap jiwa
santri. Sudah menjadi lumrah kesalehan sosial ataupun kerukunan bermasyarakat
menjadi cerminan bagaimana ketaatan dan keimanan seseorang kepada Allah Swt.
Ketekunan beragama dan kerukunan bersosial adalah kunci untuk mencapai
masyarakat yang di inginkan atau masyarakat madani, terlebih pada masa pandemi
covid-19. Pengaplikasian kesalehan sosial pada saat pandemi tentu akan berbeda
dengan amal atau perbuatan di tatanan sosial sebelum terjadinya pandemi, yang
dimana sebelumnya sudah di paparkan di atas. Kesalehan sosial dapat pula
diartikan dengan solidaritas sosial. Solid dalam bersosial, tatanan masyarakat
yang harmonis adalah kunci dari keamanan masyarakat apalagi dikala pandemi
seperti ini, yang dimana tatanan masyarakat sudah banyak berubah.
Lebih daripada itu, ber-muamalah
dengan baik dan menurut tuntutan syara’ samalah artinya dengan menegakkan
ajaran Allah swt. menilik kembali apa yang telah di katakan oleh hamka dalam
bukunya yang berjudul Lembaga Budi “orang-orang pemalas dan anak orang
kaya yang pendiam dalam rumahnya memakan yang ada, samalah artinya dosanya
dengan pencuri yang menarik harta orang lain, sebab sama-sama mergugikan
masyarakat”
DAFTAR PUSTAKA
Hamka,
1994, dari perbendaharaan lama, Jakarta. Pustaka Panjimas
Hamka,
2016, lembaga budi, Jakarta. Republika penerbit.
Essai ini di publikasikan setelah saya mengikuti lomba essai
tingkat nasional untuk memperingati hari santri nasional tahun 2020 yang
diselenggarakan oleh pondok pesantren Sumatra Thawallib Parabek Bukit Tinggi
BIODATA PENULIS
Nama :
Mohammad Ahlun Nazori
Tempat, Tanggal Lahir :
Sengkerang, 24 April 1999
Asal instansi : UIN Mataram
Nomor WhatsApp :
087851033986
Nama Blogg :
ahlunnazori.blogspot.com
E-mail :
ahlunnazori456@gmail.com



Komentar