ESSAI

 

Santri dan Kesalehan Sosial di Masa Pandemi COVID-19

 

Berangkat dari sejarah yang diperkasai oleh santri, Negara Indonesia memiliki corak khas ala santri. Sebagai Negara Islam, Indonesia tidak luput dari peran santri ataupun dari Pesantren tempat para santri mengkaji. Dari bidang pemerintahan sampai pada tingkat tokoh di dalam sosial masyarakat, santri mendapatkan peran yang penting untuk menjadi panutan dan imam di masyarakat. Terlepas dari itu, sejarah telah banyak mencatat kemerdekaan Indonesia tidak akan berhasil andaikata santri dan pesantren tidak ada. Jauh sebelum perjuangan kemerdekaan Indonesia, agama Islam menjadi simbol dari peradaban pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti kerajaan Pasai, kerajaan Demak, dan kerajaan-kerajaan yang lain yang berdiri di wilayah Nusantara (Hamka, 1994). Berangkat dari sejarah tersebut, maka tidaklah heran jika Negara Indonesia menjadi negara mayoritas yang beragama Islam. Pada masa perjuangan untuk kemerdekaan, peran santri dan Pesantren tidak bisa di abaikan begitu saja, dan bahkan harus di bumikan dalam bentuk pelajaran Sejarah agar kiranya generasi bangsa mengetahui asal-muasal dan latar belakang kemerdekaan Indonesia. Hal ini bisa di lihat dari resolusi jihad yang di kumandangkan oleh pimpinan pondok pesantren tertua di Indonesia, KH. Hasyim Asy’ari yang kemudian di laksankan oleh seluruh santri dan dibantu masyarakat sipil waktu itu. (Resolusi Jihad, 2008)

Tidak dipungkiri lagi, sumbangan santri atas kemerdekaan negara Indonesia ini sangat besar. Disamping itu peran santri dalam bersosial juga tidak diragukan lagi, salah satunya sebagai agent of controll. Pandangan masyarakat Indonesia tentang santri tentu berbeda dengan siswa yang tidak nyantri, meskipun pada kenyataannya siswa yang tidak mengikuti program asrama ataupun mondok dan mempunyai jadwal untuk mengkaji agama tidak melulu tertinggal pengetahuannya mengenai agama. Berangkat dari pandangan tersebut pada akhirnya masyarakat memberikan pandangan yang sama atas santri dengan status turun menurun.

Kehidupan santri yang multi-agamis memberikan warna pada status sosial masyarakat. Kegiatan sosial dalam bidang keagamaan dimasyarakat tentu akan berjalan dan teratur jika dalam masyarakat tersebut memiliki orang yang faham agama, dalam hal ini santri bisa dikatakan “yang faham agama”. Di satu sisi kehidupan sosial masyarakat dengan ciri khasnya adalah gotong royong menjadikan peran santri sangat dibutuhkan, meleihat figur-figur santri sudah di didik dengan cara belajar dan besosial. Dengan ciri khas tersebut masyarakat Indonesia erat sekali dengan hukum-hukum muamalah (bersosial)

Pada masa pandemi sekarang ini, pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah hal yang utama dalam pengurangan atau bahkan menghentikan laju penularan corona virus desase-19 (covid-19). Melihat data yang dikeluarkan dari www.bisnisnews.id Mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat kesadaran akan penyakit menular sangat rendah. Ditambah lagi dengan pengetahuan tentang virus yang menjangkit di seluruh dunia sekarang ini. Minimnya pengetahuan dan kesadaran dari masyarakat menjadi kendala untuk memerangi penyakit menular (covid-19). Pasalnya, daerah dengan masyarakat yang memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik mengenai virus (covid19) memiliki tingkat kesembuhan dan bisa menekan laju penularan covid19. Sedangkan daerah dengan masyarakat yang kurang kesadaran dan pengetahuan tentang penyakit menular akan sulit memutus rantai penyebaran virus yang merebak sekarang ini.

Pada masa seperti inilah santri dan pesantren memiliki peran yang sangat penting, melihat dari pandangan masyarakat Indonesia yang menjadikan santri sebagai panutan atau bahkan sebagai imam. Lebih dari itu, kapasitas dan kapabilitas ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum yang dimiliki para santri akan sangat berperan dalam mengedukasi masyarakat untuk mencegah penularan covid-19. Tidak hanya itu juga, didalam kehidupan sosial masyarakat pada masa pandemi ini tentu telah mengubah banyak tatanan masyarakat dalam bersosial. Sebagai contoh, sebelum pandemi covid-19 masyarakat selalu mengadakan pengajian bulanan atau bahkan mingguan, dan setelah mewabahnya covid-19 pengajian ditiadakan. Hal ini tentu mengubah tatanan kebiasaan masyarakat. Pada kesempatan inilah kemudian santri sangat dibutuhkan, melihat dari keilmuan agama dan teknologi yang dimiliki para santri. Sebagai salah satu solutor, peran santri kiranya akan mampu menyuguhkan solusi di tengah sosial masyarakat.

Sosial dari segi bahasa dapat diartikan sebagai bentuk segala hal yang berkenaan dengan masyarakat. Dalam bersosial dimasa pandemi tentunya serba terbatas, tentu gerak-gerik masyarakat jauh lebih terikat dari sebelum adanya pandemi ini. Pada situasi dan kondisi inilah kemudian kesalehan bersosial harus di tingkatkan. Merawat hubungan sosial di masa pandemi sangat dibutuhkan, melihat dari peraturan-peraturan pemerintah yang membatasi aktivitas sosial sebagai bentuk upaya pemerintah dalam memerangi covid-19. Adanya pembatasan tersebut mengakibatkan perselisihan, diantaranya tentang larangan shalat jum’at ketika ada wabah berbahaya. Sebagian masyarakat akan mengikuti dan sebagian masyarakat kontra terhadap peraturan yang dibuat pemerintah. Melihat perselisihan tersebut, santri dan kesalehan dalam bersosial akan mampu melerai pertikian tanpa mendukung salah satu pihak, karena memang santri mendapatkan kedudukan yang berbeda oleh masyarkat. Oleh sebab itulah santri dapat menggunakan kedudukan tersebut untuk memecah permasalahan kontemporer di masa pandemi ini.

Sebelumnya, perlu untk kita bedakan antara kesalehan sosial dengan kesalehan pribadi. Menurut hemat penulis, kesalehan pribadi adalah selalu berkaitan dengan  habluminallah  atau  bisa diartikan dengan hubungan makhluk secara pribadi dengan Allah Swt. sedangkan, kesalehan sosial adalah kerukunan dalam bermasyarakat. Kesalehehan sosial yang dibangun atas dasar ilmu dan akhlak adalah  hal yang harus ada pada tiap-tiap jiwa santri. Sudah menjadi lumrah kesalehan sosial ataupun kerukunan bermasyarakat menjadi cerminan bagaimana ketaatan dan keimanan seseorang kepada Allah Swt. Ketekunan beragama dan kerukunan bersosial adalah kunci untuk mencapai masyarakat yang di inginkan atau masyarakat madani, terlebih pada masa pandemi covid-19. Pengaplikasian kesalehan sosial pada saat pandemi tentu akan berbeda dengan amal atau perbuatan di tatanan sosial sebelum terjadinya pandemi, yang dimana sebelumnya sudah di paparkan di atas. Kesalehan sosial dapat pula diartikan dengan solidaritas sosial. Solid dalam bersosial, tatanan masyarakat yang harmonis adalah kunci dari keamanan masyarakat apalagi dikala pandemi seperti ini, yang dimana tatanan masyarakat sudah banyak berubah.

 Lebih daripada itu, ber-muamalah dengan baik dan menurut tuntutan syara’ samalah artinya dengan menegakkan ajaran Allah swt. menilik kembali apa yang telah di katakan oleh hamka dalam bukunya yang berjudul Lembaga Budi “orang-orang pemalas dan anak orang kaya yang pendiam dalam rumahnya memakan yang ada, samalah artinya dosanya dengan pencuri yang menarik harta orang lain, sebab sama-sama mergugikan masyarakat” (Hamka P. , 2016). Dapat di maknai perkataan beliau, bahwa orang-orang yang tidak mau bersosial (gotong royong) ataupun tidak mau dalam memberikan solusi di tengah masyarakat padahal ia mampu untuk itu, maka sama saja artinya dengan orang yang membuat masyarakat merasa gelisah. Maka daripada itu, kesalehan sosial yang dimiliki oleh santri sangat perlu diamalkan di masa pandemi sekarang ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hamka, 1994, dari perbendaharaan lama, Jakarta. Pustaka Panjimas

Hamka, 2016, lembaga budi, Jakarta. Republika penerbit.

www.bisnisnews.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Essai ini di publikasikan setelah saya mengikuti lomba essai tingkat nasional untuk memperingati hari santri nasional tahun 2020 yang diselenggarakan oleh pondok pesantren Sumatra Thawallib Parabek Bukit Tinggi

 


BIODATA PENULIS

Nama                              : Mohammad Ahlun Nazori

Tempat, Tanggal Lahir  : Sengkerang, 24 April 1999

Asal instansi                   : UIN Mataram

Nomor WhatsApp          : 087851033986

Nama Blogg                    : ahlunnazori.blogspot.com

E-mail                              : ahlunnazori456@gmail.com

Komentar

Postingan Populer