EDISI HARI PAHLAWAN
10 NOVEMBER 2020
Tidak akan lekang di hampar panas ingatan kita pada satu titik
peristiwa yang mengagumkan. Tidak lapuk pula sejarah yang mengantarkan
Indonesia pada kemerdekaan yang sesungguhnya dari penjajahan. 10 November 1945
menjadi hari yang sakral bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi hari yang musti
dikenang oleh setiap elemen bangsa, dari belia hingga menua, dari petani sampai
pada tingkat menteri. Pergerakan dan perlawanan yang tunjukan oleh rakyat
Indonesia untuk mengusir bersih penjajahan pada masa itu menjadi dasar yang
kuat dari sisi sejarah bagi masyarakat Indonesia, khususunya para pemuda masa
kini.
Mengingat kembali orasi dan semangat Bung Tomo, tewasnya A.
Brigadir Jendral R.G Lodder-Symond dari pihak belanda adalah termasuk
mereflesikan kembali semangat juang anak muda. Sebelum peristiwa 10 November
terjadi, resolusi jihad yang di gelorakan oleh K.H Hasyim Asy-Ari sudah
mengubah pemikiran dan stigma setiap masyarakat dalam memperjuangkan kembali
kemerdekaan setelah Belanda berniat lagi untuk menjajah Indonesia. Resolusi jihad
yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945 yang kemudian di peringati
sebagai hari santri nasional juga menjadi busur panah yang mampu melejitkan
semangat jihad melawan penjajah. Semangat itu kemudian di gelorakan dan terus
di bakar melalui orasi ulung kemerdekaan, Bung Tomo. Berikut potongan api penyulut
semangat perjuangan itu :
Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek
kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas
dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe
Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan
mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,
Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang
dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen
djuga!
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka
itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin
merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer
daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI. !!!!
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!"[1]
Demikianlah potongan
singkat orasi dari Bung Tomo yang di suarakan melalui radio kemerdekaan waktu
itu. Semangat pejuang pahlawan sangat patut kita tiru, sebagai pijkan dalam
memajukan Indonesia melalui berbagai karya anak bangsa. untuk itu perlu bagi
anak muda mereflekasikan hari pahlawan dengan betul-betul khidmat.
selamat hari pahlawan
10 November 2020
10 November 1945


Komentar