dakwah kepenulisan

 menulislah,!!!!! maka engkau akan abadi bersama rangkaian abjad-abjadmu


DAKWAH KEPENULISAN

Oleh : Mohammad Ahlun Nazori bin Muhammad Ilmi

 

Sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, islam pada 14 abad islam telah memberikan pengajaran yang secara teoritis sudah melengkapi kekayaan intlektual. Jauh sebelum adanya bangsa lain yang masih awam dengan ilmu pengetahuan, agama islam telah berbicara “baca tulis” yang sekarang lebih di kenal dengan sebutan literasi. Membaca dan menulis menjadi hal yang utama dalam penyebarluasan ilmu pengetahuan.

Allah swt. menurunkan salah satu surah yang ada di dalam al-Qur’an, yaitu surah al-Qalam  yang berarti pena. Yang tercantum pada ayat pertama juga berbicara perihal pena “Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan” (al-Qalam :1) sesuai ayat al-Qur’an yang di paparkan sebelumnya, maka penulis yang faqir ini akan menitikberatkan pembahsan hanya pada “kepenulisan” saja.

“Ikatlah illmu dengan menulis”

Demikianlah ungkapan yang begitu dalam maknanya dari seorang ahli hikmah sekaligus sahabat nabi saw, Ali bin Abi Thalib. Bila di kaji dengan saksama perkataan yang magis itu, ada banyak hikmah yang bisa di petik. Menurut hemat penulis, ilmu adalah anugerah yang di berikan Allah swt. kepada hambanya. Namun di karenakan sifat dasar manusia adalah salah dan lupa, maka sudah semestinya seorang hamba untuk mengikat dan mengabdikan ilmu pengetahuan dengan tulisan. Secara filosofi, ilmu pengetahuan tanpa ada tulisan adalah hanya untuk masa nya saja, dalam arti ilmu tanpa di buku kan hanyalah hujan untuk sehari saja. Demikianlah pentinganya menulis.

Mengutip lagi dari perkataan ulama yang masyhur , Imam al-Ghazali. jika kamu bukanlah anak raja dan engkau bukan anak ulama besar maka jadilah seorang penulis”. Bukanlah maksud menyetarakan kedudukan seorang raja, bukan pula untuk menyaingi tingginya ilmu para ulama, namun jika engkau menjadi penulis maka engkau akan menuai amal-jhariyah dengan sabab tulisan mu itu. Dengan cara tersebut maka engkau akan mendapatkan pahala yang setara dengan para raja yang selalu menaungi rakyatnya dengan indahnya ketentraman, dengan asrinya keamanan, dan dengan indahnya hidup berdampingan. Dengan cara  menjadi seorang penulis, maka tidaklah mengherankan jika amal kebaikan dengan sebab tulisanmu itu mendatangkan kemaslahatan yang menjadikan perbuatan menulis sama pahala jhariyah dengan fatwa yang di keluarkan oleh para ulama.

Bukanlah pula hanya ulama yang dapat menulis kitab, buku atau karangan lain. Semua orang berhak bahkan akan lebih baik menjadikan dirinya sebagai penulis. Selain menjadi seorang pahlawan, seorang yang sangat berjasa dalam kehidupan semua orang, maka menjadi seorang penulis adalah salah satu cara agar namamu abadi sepanjang sejarah manusia. Tidak pula menjadi seorang penulis harus cakap, bukan pula syaratnya harus lululs S1, tanpa gelar dan kehormatan dan tanpa kedudukan sekalipun engkau bisa jadi seorang yang mengabdikian diri melalui tulisan. Terkait hal ini, penulis teringat dengan sebuah perkataan RA. Kartini “menulis adalah pekerjaan untuk menuju keabadian”



tulisan ini saya buat untuk memenuhi persyaratan masuk sebagai anggota Forum Lingkar Pena Provinsi Nusa Tenggara Barat beberapa bulan yang lalu. semoga Allah swt. memberikan keistiqamahan dalam berjuang di komunitas ini. aamiin..

Komentar

Postingan Populer