lembaga budi
BAGAIMANA MENGENAL KEKURANGAN DIRI ?
Tulisan ini dipetik melalui tulisan hamka dalam bukunya yang
berjudul “Lembaga Budi”. Semoga melalui ringkasan tulisan seorang ulama besar
Indonesia ini, kita mampu menyadarkan diri kita
akan kekurangan yang dimiliki.
Untuk mengetahui kekurangan diri, hendaklah tempuh salah satu diantara
empat cara :
1.
Carilah
seorang guru atau pendidik yang berpandangan luas tentang jiwa dan mengerti
cacat yang tersembunyi. Lalu turuti segala nasihat dan sarannya. Pendeknya,
carilah guru dan jadilah murid yang setia. Meskipun pada zaman ini sangatlah
sulit mencari guru pendidikan seperti itu. (“rajin berguru pada ahlinya”
:ditambahkan oleh saya sendiri yang di petik melalui pesan ulama sekaligus
pahlawan nasional dari NTB, Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul
Madjid)
2.
Carilah
seorang sahabat karib yang jujur dan berpandangan luas dan beragama. Mintalah kepada
teman itu untuk menunjuki kita mana kelakuan dan perbuatan kita yang buruk,
baik lahir ataupun bathin. Cara yang seperti ini, dalam sejarah selalu dilakukan
oleh orang-orang besar dan para ulama Islam yang ternama.
Ketika Sayyidina
Ummar bin Khattab menjadi khilafah, beliau tidak segan-segan menanyakan kepada
orang lain yang dipercayainya apakah terlihat keaslahan-kesalahannya. dalam
sebuah riwayat, beliau bertanya kepada Salman Al-Farisi. Namun Salman Al-Farisi
segan untuk menjawab, lalu Ummar mendesaknya hingga Salman mau menjawab, “saya
mendengar kabar bahwa engkau makan dengan dua macam lauk. Dan saya dengar pula
engaku memakai dua salin kain. Itu sudah termasuk boros”. Lalu Ummar
bertanya lagi, “selain dari kedua itu, apakah engkau melihat kesalahan yang
lain pada diriku ?”. Salman menjawab “tidak ada”. Lalu dengan serta merta Ummar
berkata “mulai hari ini kedua kebiasaan itu saya tinggalkan”.
3.
Ambil
faedah mengetahui cacat dari mulut-mulut musuh. Karena apabila orang telah
benci, dia dapat melihat cacat dengan cepat yang dibencinya, sebagaimana dengan
orang yang sedang sayang dan dicintainya maka yang dilihat hanyalah baiknya
saja, yang buruk tidak terlihat olehnya. Maka orang yang arif lagi bijaksana
dapat mengambil faedah dan mengoreksi diri melalui caci maki seorang musuh.
4.
Bergaul
dengan sesama manusia. Pergaulan adalah pendidikan sopan santun yang baik
sekali. Kalau semua manusia meninggalkan yang tidak disukai orang, maka tanpa
seorang pendidikpun dia akan terdidik juga.
demikianlah yang dapat disampaikan melalui tulisan ini. semoga ada arti dan manfaatnya.
terima kasih sudah berkunjung, dan semoga kita bisa bersilaturrahmi kembali di beranda blogg dengan seri keilmuan yang insyaAllah bermanfaat...



Komentar