posisi penuntut ilmu

 


Semakin tinggi seri keilmuan sesorang, semakin dekat pula ia dengan tuhannya.

Pengetahuan yang dimiliki manusia sejatinya adalah manifestasi dari kedekatan dengan tuhannya. Karena sumber ilmu pengetahuan yang ada didunia ini berasal dari tuhan seluruh alam, Allah swt. berkaitan dengan itu, dapat di analogikan sebagai hulu ke hilir. Orang yang menerima air di hilir tergantung dari hulu nya. Jika perairan hulu tidak mengalir, maka nihil pula yang akan ditemukan di hilir. Demikianlah analoginya. Orang yang berilmu, senantiasa akan selalu merasa dekat dengan tuhannya, dalam keadaan apapun, dan dengan siapapun ia berinteraksi.

Berbeda kasus dengan profesor-profesor yang tidak memluk agama Islam, atau bahkan tidak percaya dengan adanya tuhan (ateis). Orang cerdas seperti mereka hanya terhalang oleh sehelai daun yang menghalangi jernihnya air dari hulu ke hilir. Daun itulah yang diibaratkan rasa kepercayaan atau keimanan kepada tuhan tidak ada.

Ilmu yang mengantarkan kedekatan dengan tuhan adalah ilmu yang barokah, ilmu yang senantiasa memberikan manfaat bagi orang banyak dan bagi dirinya sendiri. Menilik dari pendapat Imam Al-Ghazali bahwasannya berkah yaitu merupakan ziyadatul khair yang mempunyai arti ‘bertambahnya kebaikannya’. Dengan demikian, berkah tidak dapat dilihat secara mata (lahirah), akan tetapi bisa dirasakan yang mendapatkan ke” berkahan” tersebut. Dapatlah disebut ilmu yang barokah bila Seseorang yang mempunyai ilmu, banyak ataupun sedikit, dan bermanfaat bagi diri individunya ataupun orang lain, maka ilmunya tersebut termasuk berkah.

Seorang ulama Syekh az-Zarnuji memberikan nasihat berharga kepada para penuntut ilmu. Untuk itu, perhatikan dan praktek kan nasihat ulama tersebut.

Pertama, niat yang tulus. Seorang penuntut ilmu harus selalu menjaga keikhlasan dalam belajar, senantiasa menjaga niat baik sehingga tidak ada padanya niat kotor untuk menuntut ilmu

  

Kedua, sabar dan tabah. Seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki hati yang tabah dan sabar dalam belajar kepada guru. Karena sifat dasar manusia adalah “tidak tahu” maka dari itu, untuk mengetahui sebuah ilmu harus mendapatkannya dengan sabar. Kesabaran seorang penuntut ilmu dalam menambah ilmu pengetahuannya adalah bentuk dari keikhlasan menuntut ilmu.

 

Ketiga, selektif memilih teman. Seorang penuntut ilmu hendaknya memilih teman yang tekun, jujur, dan mudah memahami masalah. Berusaha menghindari teman yang malas, tidak disiplin, banyak bicara, suka membuat gaduh, dan gemar memfitnah.

Keempat, mengagungkan ilmu. Seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri dan ahli ilmu.

Kelima, menghormati guru. Termasuk dalam mengagungkan ilmu adalah menghormati guru. Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, "Saya menjadi hamba sahaya dari orang yang telah mengajarku satu huruf."

Keenam, selalu khidmat dalam memperhatikan ilmu. Oleh sebab itu, hendaknya seorang penuntut ilmu bisa khidmat dalam memperhatikan ilmu, sekalipun ilmu itu telah ia dengar berulang-ulang.

Demikianlah yang dapat disampaikan oleh penulis, semoga ada arti dan manfaatnya.

 

 

Komentar

Postingan Populer