AKTIVIS DAN ROKOK



AKTIVIS DAN ROKOK

Gaya hidup pada manusia berbeda-beda, ada yang sudah nyaman dengan menggunakan pakaian kaos oblong dan ceclana jeans, ada juga yang merasa cukup hanya menggunakan celana kain lalu balance dengan baju kemeja. Semua orang punya cara tersendiri dalam memberikan kenyamanan terhadap dirinya sendiri. Selain dari penampilan, gaya berfikir seorang mahasiswa juga mustahil satu, selalu saja ada pebedaan pola fikir, meski hanya seujung rambut. Perbedaan gaya berfikir mahasiswa tentu menjadi  perbedaan  yang fundamental dalam menemukan jati dirinya sebagi mahasiswa. Aktivis mahasiswa, adalah kalangan yang paling berpotensi dalam melakukan kajian-kajian di bidang pemerintahan sampai bidang kebiasaan personal Individu.

-

Gaya berfikir seorang aktivis, penulis berpendapat semuanya baik selama pola fikir itu tersistematis dengan baik dan mempunyai batasan. Namun pada realitanya, gaya berfikir klasik masih banyak dianut oleh mahasiswa dan kaum milenial sekarang ini dan masih terkungkung dengan pemikiran yang jauh dari kata moderat. Probelematika seperti inilah yang kemudian menjadi dasar permasalahan pada mahasiswa sekarang ini. Selain dari itu, yang kerap kali menjadi permasalahan pada mahasiswa adalah menganut sistem berfikir yang otoriter, hanya dirinyalah yang paling benar, dan orang lain pasti salah. Seharusnya, pemikiran yang seperti itu dihilangkan jauh-jauh oleh para mahasiswa yng menganggap dirinya aktivis.

-

           Aktivis itu bukan mereka yang sering berteriak sambil memegang megaphone di depan gerbang kantor DPRD, atau didepan gedung gubernur, bukan juga mereka yang selalu bertanya dan menyalahkan pemerintah, aktivis itu bukan juga mereka yang mengatakan bahwa “aktivis itu harus merokok”. Pemikiran-pemikiran seperti ini harus dibenahi, dirombak, dan disingkirkan jauh-jauh oleh kaum milenial dan mahasiswa. Gaya berfikir seperti ini cenderung memfokuskan pada satu titik saja sehingga bisa dikatakan pemikirannya berat sebelah, dan bahkan berpotensi menyalahakan sikap orang lain yang moderat. Jika kaum milenial dan mahasiswa sudah beranggapan bahaw rokok dan aktivis itu adalah satu tarikan nafas, maka tidak bisa dikatakan sebagai pemikir yang kritis, dan bahkan pola pikirnya bisa dikatakan cacat. Perihal merokok itu adalah pilihan, bukan keharusan. Pemikiran seperti ini harus di singkirkan. Kaum milenial dan para mahasiswa yang enggan untuk merokok lebih berpotensi dalam menyumbangkan hasil analisa yang lebih baik dari mahasiswa yang perokok aktif, pasalanya data Riskesdas menyatakan, bahwa terdapat peningkatan prevalensi merokok penduduk umur 10 Tahun dari 28,8 persen pada 2013 menjadi 29,3 persen pada 2018. Data BPJS Kesehatan di tahun 2019 menunjukkan jumlah kasus tidak menular akibat konsumsi tembakau seperti jantung, stroke, kanker adalah 17,5 juta kasus dengan biaya lebih dari Rp16,3 triliun. Dari data tersbut, bagaimana mungkin seorang yang sangat berpotensi merusak sistem kerja otak mampu menganalisa lebih cermat dan baik daripada mereka  yang bebas dengan asap rokok. Data ilmiah menyebutkan merokok dapat mengganggu perkembangan dan fungsi otak, baik pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Selain itu, merokok juga dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit pada otak, seperti stroke, aneurisma otak, dan pikun atau demensia.

-

Untuk itu, memberikan dampak dan pengaruh yang positif bagi sesama sama dengan mengubah peradaban menjadi lebih baik lagi salah satunya dengan cara menghindari pemakaian rokok. Mengalirkan ilmu pengetahuan dengan cara berdiskusi dan bertukar fikiran adalah salah satu metode yang dapat dibentuk oleh semua kalangan.

Sedih rasanya mendengarkan para mahasiswa yang mengatakan  "rokok adalah salah satu nyawa aktivis." Bahkan ada yang mewajibkan rokok bagi aktivis mahasiswa. “aktivis itu harus merokok , sebagai identitas khas”, suara-suara sumbang yang dilontarkan tersebut jauh dari kerasionalan berfikir manusia dan jauh dari penjelasan ilmiah.

-

Berlanjut di blog berikutnya…

 



 


 

Komentar

Postingan Populer