Renungan malam
Wajah yang teduh senantiasa akan memberikan ketenangan. Memberikan
kenyamanan pada orang yang di sekelilingnya. Tidak mudah terluka oleh perkataan
lidah manusia, tidak pula melukai hati orang dengan sayatan perkataan. Senantiasa
orang yang bermuka teduh selalu tersenyum walau di timpa masalah berkali
kali. Yang teduh jiwanya, akan teduh
pula senyumnya, yang teduh budinya, akan teduh pula sifat dan karakternya.
Jadilah layaknya pohon yang di butuhkan orang-orang yang ingin berteduh,
jadilah rumah bagi orang-orang yang tengah butuh.
Hanya sedikit orang yang memiliki jiwa yang teduh, yang memiliki
keleluasaan jiwa sosial, yang ketika dimintai pertolongan selalu di usahakannya
memberikan pertolongan. Orang-orang seperti ini amat jarang di temukan sekarang
ini. Kebanyakan orang harus ada alasan untuk menolong orang lain. Entah itu
karena yang di beri pertolongan adalah orang yang tinggi jabatannya, atau orang
yang banyak uangnya. Ada juga macam orang yang menolong karena fisik, pengalaman
penulis sudah banyak membuktikan. Bahkan saya sendiri pernah melakukan hal yang
demikian. Maka sebab itu, tulisan ini bukan hanya untuk orang lain, melainkan
untuk diri pribadi. Menolong karena ada sesuatu tidaklah di benarkan atas asas
apapun. Siapapun orang berhak untuk di berikan pertolongan, dari yang miskin
papa sampai pada tingkat kesultanan. Dari tingkat keelokan wajah sampai pada
wajah yang kurang sedap di pandang mata. Itu semua punya hak yang sama dalam
memberi pertolongan. setelah membantu orang janganlah pertolongan itu selalu di
kenang dalam ingatan melainkan lepas jauh-jauh dari mengingatnya. Sedang yang
di beri pertolongan hendaklah untuk selalu mengingat kebaikan orang lain yang
telah membantunya. Teringat pesan buya Hamka dalam bukunya “seorang yang telah
di berikan pertolongan oleh orang lain, maka wajiblah atasnya bertekad untuk
membalas kebaikannya.”
Untuk menjadi orang yang bijak, hati manusia haruslah selalu
dilatih setiap saat, ibarat bambu yang bengkok, jika pada mula pertumbuhannya
selalu diluruskan sedikit demi sedikit, maka pada panjangnya kelak akan lurus
sebagaimana mestinya. Menjadi manusia yang bermanfaat itu nikmat, tentu hal ini
tidak bisa dirasakan oleh orang-orang yang jarang atau bahkan tidak pernah
merasa cukup dengan keadaannya sekarang. Dan begitupun sebaliknya, rasa cukup dengan
keadaan yang sekarang, senantiasa akan membawa ketenangan dalam menjalani
hidup, merasa aman ketika diberikan ujian, merasa tentram disaat semua orang berkutik pada masalah.
Tulisan ini tidak pernah ada maksud menggambarkan penulis, bahkan
jauh dari sifat yang digambarkan, namunhanya
saja mengajak kepada yang tertuang pada tulisan di atas. Pada akhirnya Allah,
tuhan sekalian alam yang berhak untuk memberikan nilai dan balasan.



Komentar